Pagi ini Rangga hanya bisa menahan amarah. Sejak kemarahan Pak Sarwono kepadanya membuat Rangga bete dan malas untuk bekerja. "Hah, ini semua karena wanita itu. Dia selalu saja membuat masalah. Kapan dia hilang dalam pikiran dan kehidupan aku." Rangga mengusap wajahnya dengan kasar, dia benar-benar tidak mau mengingat Anggi, ingin melupakan wanita itu, tapi kenapa sulit. Pintu ruangan diketuk, Rangga yang melamun menoleh ke arah pintu. "Masuk!" Teriak Rangga. Pintu terbuka, asisten Rangga membukakan pintu dan menundukkan kepala ke arah Rangga. Asisten Rangga melangkahkan kaki menuju meja dan meletakkan map kuning di depan Rangga. "Ada meeting dengan perusahaan properti, jam sepuluh ini. Dan ini semua sudah saya susun, Anda bisa cek kembali sebelum kita ketemu di restoran Jepang,"