BAB II

1166 Words
"Ayah, Ibu! bagaimana? sudah dapat rancangannya?" Tanya Archel setelah menutup pintu laboratorium milik keluarganya.   "Belum Al, sepertinya Ibumu melupakan tempatnya dimana." Ujar ayahnya dengan terkekeh kecil. Vallery hanya menaggapinya dengan dengusan kecil, melihat fakta bahwa kedua orang tercintanya hanya menertawakannya dalam hati.   "Bantuin Ibu dong!" Terlihat Vallery memanyunkan bibirnya terhadap kedua orang yang ada di hadapnnya tersebut. Dan mendapati reaksi kekehan dari keduanya.   "Terakhir kali, Ibu menyimpannya dimana?" Tanya Archel kembali membuka pembicaraan setelah mereka berdiam cukup lama, dan sibuk mencari sebuah rancangan alat.   "Seingat Ibu di lemari A-23." Balas Vallery yang membuat Archel membuka lebar matanya.   "Sepertinya, kemarin pernah Archel ambil deh." Ujar Archel yang memunculkan sebuah tatapan penasaran dari sepasang mata ayah dan ibunya.   "Tapi, kayanya waktu itu Archel masukkan ke tempat pembakaran deh." Setelah selesai menyelesaikan kalimat terakhirnya, Archel mendapatkan tatapan intimidasi dari kedua orangtunya.   "Ter-" Belum sempat Axer melanjutkan kalimatnya, Archel sudah memotongnya.   "Tapi, Archel masih ingat rancangan yang sudah Ibu buat, bahan materialnya, cara kerja, dan proses, bahkan sampai detail ukurannya." Archel tersenyum setelah berbicara, mendapati harapan tanpa membuang waktu untuk membuat kembali rancangan, Vallery terlihat tersenyum kembali.   "Tapi, bagaimana kamu masih bisa ingat detailnya? Sedangkan Ibu sudah tidak ingat, terlebih lagi semua rancangan sengaja Ibu buat dengan detail, bahkan konsentrasi yang sulit antar pembuatan materi barunya." Vallery memasang pandangan bertanya terhadap Archel.   "Sebelumnya, Archel sudah sempat merangkai dasar kerangkanya bu. juga udah coba mengumpulkan materi, jadi Archel buat di perbandingan dengan rasio 1/10 ukuran aslinya." Archel terlihat menghentikan kalimatnya.   "Terus, mana kerangka dasar yang sudah pernah kamu buat?" Kali ini Axer bersuara dengan pandangan penasaran.   "Waktu dicoba, berhasil, tapi beberapa waktu setelahnya mendadak hancur, menurut Archel rancangannya kurang bagus, makanya Archel bakar saja, biar nanti buat formula baru lagi, tapi dari material yang sama." Archel menghentikan kalimatnya, dan melihat reaksi kedua orang tuanya.   "Baiklah, Ibu mau buat rancangan yang baru, tapi kamu bantuin Ibu." Vallery beranjak pergi, dan masuk ke ruang penyimpanan, kemudian keluar dengan membawa dua pasang jas lab.   "Hmm, Ayah sepertinya ada urusan perusahaan." Axer terlihat mengecek tab hologramnya, dan menggeserkan cahaya sensorik tersebut di udara.   "Okey, baiklah Ayah, biar Archel dengan Ibu yang mengurus urusan progam kita." Archel berbicara dengan senyuman tulus terhadap ayahnya, Ia juga sedang mengganti pakaiannya dengan jas lab.   "Okey, hati hati honey!" Senyum Vallery terhadap suaminya. Axer hanya membalas dengan sekali anggukan, lalu pergi meninggalkan kedua orang yang di sayangnya di lab mereka.   ***   "Sudah sampai Blok D, tapi kita tidak mendapatkan informasi apapun, sia sia!" Seru salah seseorang dari pemerntahan pusat.   "Bukan sia sia, lebih tepatnya pembodohan Selvi." Balas seorang pemuda terhadap perkataannya.   "Sama saja William." Ujar Selvi dengan tatapan sini kepada William.   "Kalian bisa tenang tidak sih?" Tegur seorang pria yang berada di depan mereka berdua.   "Tenang apanya? Udah cukup tenang ya Dri... diperintah melakukan hal tidak berguna seperti ini!" Balas Selvi dengan kekesalan yang tampak jelas diwajahnya.   "Tapi, tentang Lyam yang menghilang tiba tiba, aku curiga sama suatu hal." Driad menatap ke jalanan aspal yang terbuat dari batu emerald, ia terlihat seperti berpikir.   "Emangnya, curiga kenapa sih? Oh, aku paham, curiga kalau ternyata Vian penghianat?" Tanya Selvi, William sedari tadi hanya mendengarkan dan mencoba memahami perkataan Driad.   "Bukan begitu..." Driad terlihat kembali gelisah.   "Maksud kamu, kalau ternyata udah ada yang curiga dari lama tentang keberadaan kita, dan mereka mencoba mencari informasi yang akurat dengan menculik salah satu dari kita?" Ujar William dengan memasangkan pandangan bertanya terhadap Driad.   "Ya kamu benar, kira kira seperti itu." Driad menjawab tanpa memalingkan wajahnya.   ***   "Arghhh." Terdengar sebuah erangan kesaitan dari seseorang.   "Kamu sudah sadar?" Archel tersenyum, lalu dia mengampiri seseorang tersebut.   "Siapa kamu? Lepaskan aku!" Ujarnya terlihat marah dan memberontak, tapi dia tidak memiliki daya untuk melawan.   "Sebaiknya kamu diam saja, tidak usah banyak bergerak, nanti kamu bisa mati." Archel terkekeh, lalu ia duduk di kursi dekat pintu ruang isolasi tersebut, ia menyilangkan kedua kakinya lalu menatap serius terhadap seseorang yang ada di hadapannya.   "Baiklah... Mari kita mulai, kamu mau pertanyaan yang mana dulu? Tentang info pribadi atau tentang perusahaanmu?" Tanya Archel dengan senyum miring.   "Aku tidak akan mengatakan apapun, lagian rekan rekanku pasti sedang mencariku, kamu bisa mati mengenaskan kalau terlibat terlalu jauh terhadap kami." Balasnya dengan senyuman sinis.   "Aku tidak takut, alat sensor dan pelacak kamu sudah kuhancurkan, tempat ini berbeda, tidak akan dapat ditemukan, karena pakai pemulihan seperti bunglon, sekarang kamu tinggal pilih, ingin menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu?" Archel menatap jengah orang yang ada di hadapannya, lalu ia meraih remot kontrol yang terdapat diatas meja di sampingnya.   "Aku tidak akan menjawab, dan kamu jangan meremehkan kami, kemampuan bangsa seperti kami jauh lebih tinggi dan mengerikan dibandingkan kalian bangsa manusia!" Serunya dengan tatapan sinis.   "Baiklah, jika itu maumu, selamat bersenang senang!" Archel menekan salah satu tombol bewarna merah di remote tersebut, secara spontan, pria tersebut menggeliat, dan mengerang kesakitan.   "Sampai jumpa tiga jam lagi." Archel keluar dari ruangan tersebut dengan pandangan datarnya, terlihat jelas sekali kalau Archel sudah muak berhadapan dengan mereka, berhadapan dengan bangsa lain, dan pastinya mereka juga merekayasa genetika manusia sehingga terlihat persis menyamai manusia, bahkan terlihat sama tanpa perbedaan.   "Dasar k*****t!!!" Terdengar suara kesakitan yang bergema di ruang isolasi tersebut.   ***   Axer sedang berada di sebuah lift, lebih tepatnya di perusahaan miliknya. Ia menaiki lift untuk mencapai gedung lantai 101. Dimana lantai tersebut merupakan lantai rahasia dan tidak diketahui oleh satupun karyawan yang ada di perusahannya, kecuali sekretaris dan manajeer utama pada perusahaan tersebut.   Setelah sampai, pintu lift terbuka. Axer melangkahkan kakinya keluar lift, dan mendapati sebuah ruangan mirip perpustakaan besar, dimana ruangan tersebut diisi banyak lemari seperti rak buku, tetapi bentuk tiap bagian lebih dominan seperti loker. Isi dari rak rak tersebut merupakan penelitian, ciptaan, bahkan perkembangan berlanjut dari suatu teknologi yang diciptakan oleh keluarga Axer. Dan pastinya Vallery juga Archel turut berperan dalam penciptaan ruangan besar ini.   Axer terlihat hati hati ketika berjalan di ruangan tersebut, supaya tidak terjadi kecerobohan dan menyebabkan semua penelitian di ruangan tersebut hancur. Axer sengaja membuat ruangan ini di perusahaannya supaya tidak menimbulkan kecurigaan, karena akan berbahaya dan sangat repot jika dia membuat gagasan seperti ini di rumahnya. Selain membutuhkan daerah yang luas, ruangan seperti ini juga membutuhkan tempat penyimpanan yang terjamin dan jauh dari kecurigaan.   Karena, pada perusahaan Axer yaitu AV.Corp memiliki tingkat keamanan paling tinggi, juga mulai dari lantai 90 itu tidak dapat diakses oleh orang biasa, dan hanya dapat diakses oleh orang penting dan berpengaruh di kota tersebut.   Axer mencari dengan teliti hal yang ingin diambilnya. Ia menatap satu persatu rak, dan akhirnya mendapatkannya. Ia membuka loker tersebut dengan sidik jarik dan pupil matanya, lalu terbukalah dan loker tersebut mengeluarkan sebuah kota bewarna merah hitam.   "Nah, akhirnya ketemu." Gumam Axer terhadap dirinya sendiri, lalu tersenyum puas.   Axer duduk di pinggiran jendela gedung, lalu membuka kotak tersebut, dan berisi sebuah gelang yang tampak biasa, dan sebenarnya gelang tersebut merupakan gelang multifungsi yang sangat berguna untuk keadaan dalam apapun, termasuk keadaan yang berbahaya. Axer melihat lihat kembali gelang multifungsinya tersebut, dan tersenyum bangga karena dia tidak sia sia membuat gelang tersebut, dan akhirnya dapat dipakainya untuk kepentingan visinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD