Inara Gadis Realistis.

1071 Kata
Titik-titik embun di daunan mulai terhapus perlahan. suara gemuruh angin terdengar beradu dengan hawa panas di tengah kota. Keringat Mulai bercucuran, panasnya siang hari ini membakar semangat para Pejuang pencari nafkah keluarga. Seperti biasa seorang gadis yang bernama Inara melakukan rutinitasnya, yaitu menyiapkan segala keperluannya untuk berangkat kerja dan menyantap makanan yang sudah di siapkan di meja oleh ibunya. Polesan makeup tipis menghiasi wajahnya yang terlihat natural. Meskipun begitu, wajahnya yang merona tetap memperlihatkan kecantikan paripurna. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, hari ini hari sabtu. Inara masuk sift siang dengan penuh gembira karena malam minggu nanti pasti banyak kejutan untuk dirinya. Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Inara Segera menaiki motor matic miliknya menuju tempat kerja. "Bu, Inara berangkat kerja ya. Nanti malam ibu tidur duluan saja jangan menunggu Inara pulang." Bu Umi hanya mengangguk kecil seraya tersenyum penuh kasih kepada sang putri. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Bu umi hanya bisa menyembunyikan kesedihannya. Merasa menjadi orang tua yang gagal, bukannya memberikan kehidupan yang layak kepada putrinya, justru Ibu Umi merasa menjadi beban. "Bu, Kenapa ibu melamun? Uang ibu sudah habis ya?" Tanya Inara penuh perhatian. "Masih nak, kamu jangan khawatirkan ibu dan bapak. Di rumah sudah lengkap kebutuhan kami, semua ini berkat kamu yang bekerja keras untuk keluarga kita," jawab bu Umi lembut. Matanya sudah mulai berkaca-kaca meski sudah bersusah payah ia tahan agar tidak terhanyut dalam keharuan. Tepat setahun yang lalu, kehidupan Keluarga Inara berubah lantaran sang ayah mencoba keberuntungan dengan mencalonkan diri sebagai perangkat desa. Ayah Inara rela keluar dari perusahaan agar lebih totalitas dalam niatnya untuk menjadi bagian penting dalam lingkungan desanya. Akan tetapi nasib berbicara lain, banyak orang di sekitarnya justru memanfaatkan keadaan dan membuat ayah Inara tidak terpilih hingga mereka jatuh dalam kemiskinan. Ayahnya masih merasa malu dan kecewa, sehingga sampai detik ini ayah Inara masih trauma dan belum pernah keluar rumah mencari pekerjaan kembali. Sesampainya di parkiran motor stasiun, Inara sudah disambut oleh seseorang. montornya di parkir paling ujung, dengan Sabar Inara melepas helem dan membuka jaketnya kemudian ia taruh di jok motor metic kesayangannya. Inara berusaha menghindari seseorang yang sudah Menunggunya cukup lama itu. "Ra Beneran lagi jomblo kan, Aku tanya serius loh Ra?" Retno berlari mengejar sahabatnya, karena penasaran dengan Inara sang sahabat yang sering diapelin beberapa pria di tempat kerjanya. Bukan hanya itu, Setiap kali Inara ulang tahun. Pasti outlet tempat ia bekerja penuh dengan hadiah para penggemar rahasi. Retno hanya memastikan jika tidak ada salah satu dari mereka yang menjadi kekasihnya Inara, karena ada maksud tertentu. Inara Chelselia saputri, Gadis cantik dengan bulu mata lentik. Hidung mancung dan bibirnya sedikit tebal seakan mengandung magned untuk menggait para pria tampan dan kaya raya hanya untuk menjadi Atm berjalannya. Gadis cantik itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan karena bosan dengan pertanyaan Retno. Pertayang yang sama dari semalam, Retno mencoba mengirim pesan berkali-kali namun tidak dijawab oleh Inara. Inara dan Retno bersahabat cukup lama, Namun karena Retno kebetulan memang gadis lugu dan sedikit culun sampai ia tidak cukup pintar mengenal Inara dengan baik. Inara menarik nafasnya panjang dan langkahnya terhenti di tengah jalan. "Astaga, ada apa denganmu Retno? Kenapa kamu selalu mengulang pertanyaan yang sama? Apakah tidak ada pertanyaan yang lain yang bisa bikin aku semangat hidup? Cari duwit saja susah sekali Ret, kamu kenapa sih Retno wulandari?" Inara sangat kesal dengan sahabatnya itu. "Aduh..." teriak Retno karena terlalu bersemagat menyusul Inara, ia tidak sengaja menabrak Inara yang tiba-tiba berhenti dan berdiri tegak di depannya. Inara Chelselia saputri yang biasa disapa Inara itu merupakan Putri tunggal dari Pak Rudi dan Bu umi. Sayangnya nasib Inara tak seberunrung anak tunggal yang lain. Inara harus bekerja keras demi menghidupi keluarganya. Inara tak memiliki cukup waktu untuk memikirkan sebuah hubungan berkomitmen. Baginya waktu adalah uang, ia hanya butuh uang untuk melanjutkan hidupnya. Mencukupi kebutuhan dapur, dan mencicil hutang-hutang ayahnya di Bank. Perempuan smart, realistis dan pandai sekali menarik perhatian lawan jenis. Namun ia tidak memiliki perasaan, hatinya telah tertutup oleh kenyataan. Inara tersenyum sinis, sangat jelas menunjukkan ketidak sukaanya dengan pertanyaan patner kerjanya sekaligus merangkap menjadi tetangga Inara tersebut. "Bukan begitu Ra, gimana ya cara ngomongnya? Kakak sepupuku suka Ra sama kamu, dia anaknya baik Ra. Ganteng, sholeh, pekerja keras pula. Cocok deh jadi menantu Bude Umi!" Ucap Retno berterus terang sambil cengengesan. Inara menarik tangan Retno dan mengajaknya ke toilet untuk merapikan pakaiannya sekaligus ingin memberitahu Retno sesuatu. Mereka berdua berjalan menuju toilet yang berada di dalam stasiun kereta. Inara bekerja sebagai kepala outlet makanan yang berada di area stasiun. "Lihat Ra, kereta aja bergandengan. Masak kamu enggak? Apa lagi kalau kamu jadian sama sepupuku, kita akan menjadi keluarga Ra," Mata Inara seketika menoleh ke arah kereta yang baru saja masuk gerbong beberapa meter di sebelahnya. "Meskipun aku tidak menikahi sepupumu, kita juga sudah jadi keluarga sejak kita duduk di bangku sekolah dasar," Balas Inara mantab. "Benar juga sih, Astaga betapa bodohnya aku ini. Tapi jika kamu menjadi istri sepupuku, hubungan kita semakin lebih dekat Ra!" Tidak mau kalah, Retno masih berusaha meyakinkan Inara. Sesampainya di depan cermin toilet, Inara mulai merapikan bajunya, Begitu juga dengan Retno. "Kamu tahu keluargaku masih dalam kesulitan, bagaimana aku bisa memikirkan percintaan. Itu semua Hanya akan menambah beban pikiran saja, apa lagi menikah. Mungkin aku tidak akan menikah Ret, gajiku tidak cukup untuk melunasi hutang ayah." Retno berhenti dengan aktivitasnya. Sisir yang ia pegang diletakkan kembali ke dalam ransel kecil miliknya. Retno tahu persis kesulitan yang dialami Inara saat ini, Ia tidak berpikiran sampai sejauh itu. Bagi dirinya usia mereka sudah cukup pantas untuk memiliki kekasih atau suami. Sehingga Retno lupa masalah Inara dan keluarganya. "Maafkan aku ya, Ra. Aku pikir memiliki kekasih menambah semangat kita dalam menjalani kehidupan. Ingat tidak dengan cita-kita kita menjadi seorang istri di usia yang masih muda?" Retno berusaha mencairkan keheningan Inara beberapa saat setelah menjelaskan masalahnya kembali. "Ya Tuhan, semoga sahabatku suatu hari nanti menjadi istri Muda laki-lali tampan dan kaya raya." "Aamiiin...terimakasih Doanya, Semoga segera terwujud!" Suara laki-laki lantang mengejutkan Inara dan Retno yang masih berada di dalam toilet. "Tuan, ini toilet perempuan!" Suara langkah kaki seseorang dengan jelas memenuhi telinga Inara. "Siapa, Ra?" Tanya Retno penasaran. Inara hanya mengangkat kedua bahunya tanpa menjawab. "Mungkin mereka hanya kebetulan lewat dan salah masuk toilet," Batin Inara. "Jangan-jangan itu suara pangeran yang dikirimkan Tuhan untuk menikahimu, Inara?" Ucap Retno asal. "Ngaco, sudah-sudah Cepetan ayok kita kerja!" Jawab inara sambil buru-buru merapikan makeup nya dan berlalu pergi meninggalkan Retno sendiri di dalam toilet.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN