"Arian...?" Panggil Rodin, mencoba mendekati tubuh ringkik Arian. Perlahan, dia membantu sahabatnya untuk berdiri. Betapa kasihannya pemuda itu, dari tangan Rodin, dia dapat merasakan bagaimana tubuh Arian gemetar hebat dengan isak tangis yang sama sekali tidak berhenti. Beberapa kali Arian berusaha berdiri dengan tubuh gemetar yang membuat tenaganya seolah lenyap hingga dia terjatuh, lagi dan lagi, bahkan saat Rodin mencoba menyangga Arian, sahabatnya itu seolah menolak dan bersikap kalau dia bisa mengurus dirinya sendiri dengan ketakutan yang sedang menguasainya. "Tidak Arian, hentikan!" Larangan Rodin untuk Arian yang masih mencoba pergi. "Ibu, ibu...." Lirihnya masih terus mencoba bergerak agar bisa lepas dari Rodin. Tapi Rodin masih erat memegangi sahabatnya agar tidak berlari me