Menikah dengan Abang (Angkat)

Menikah dengan Abang (Angkat)

book_age18+
431
IKUTI
5.9K
BACA
HE
age gap
lighthearted
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Ayu tak menyangka jika lelaki yang selama ini sudah dianggap sebagai Kakaknya sendiri justru diam-diam jatuh cinta padanya. Bahkan Abang angkatnya itu mengajak Ayu menikah meskipun Riana yang tak lain ibu angkat Ayu tidak merestui hubungan mereka. Lantas, apakah Ayu menikah dengan Abang karena unsur terpaksa? Atau justru Ayu juga memiliki rasa yang sama?Baca cerita ini, dijamin ngakak, baper, dan menguras emosi.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Ketahuan
Lagi, dan lagi Abangku berulah. Hanya karena tidak mau aku nikah terlebih dahulu, dia kerap kali mengaku-ngaku jadi pacar atau suamiku. Cih, Abang macam apa itu? Sudah empat kali, pacarku kabur karena ulahnya. "Bang, sampe kapan sih kayak gini?" tanyaku pada lelaki yang duduk di sebelah. "Sampe Abang nikahlah," sahutnya dengan enteng sambil memantik korek api di sebatang rokok. "Ya kalau gitu cepetan nikah," timpalku ketus seraya mengambil rokok yang terselip dibibirnya, lalu mematikan rokok tersebut ke atas asbak. Menyebalkan! Sudah jahil, suka menebar polusi. "Gak sopan, maen matiin rokok gue aja. Lagian lu aneh, pacaran ama cowok medsos. Eh, gimana kalau cowok itu udah tua bangka, udah punya anak bini, mau emang lu?" "Idih sok tahu! Pokoknya Abang harus jelasin ke Raka kalo Abang --" "Ogah," tandasnya sambil berlalu. Dasar Abang Bewok. Awas aja, kalau ketahuan dia punya pacar. Aku kerjain balik. Begitulah kira-kira kelakuan Abang angkatku. Kerjaan selalu saja jahil. *** Seharian cek media sosial, berharap Raka mau buka blokir akun aku. Sudah tiga hari semenjak Bang Dendi menegurnya dengan mengaku sebagai suamiku, Raka menghilang. Nomor handphone pun turut diblokirnya. Punya abang modelan dia, menyebalkan. Ingin rasanya pindah ke planet pluto, biar gak digangguin sama tuh orang. Hem, nasib, nasib. "Eh, beliin Abang nasi goreng gih!" Nah, tiba-tiba orangnya datang. Langsung kasih perintah tanpa basa-basi. Menyebalkan punya abang kerjaan setiap hari kalau gak jahil, ngomel-ngomel. Gak ngomel-ngomel, nyuruh mulu. "Ogah," kataku memalingkan muka ke arah lain. Pokoknya aku lagi kesel! Lagi bete sama makhluk bernama Dendi Hanggara. "Kembalian duitnya nanti buat lu." Ck, masih saja merayu. Gak bakal mempan. Aku melirik sekilas, lalu dengan lantang aku berucap. "Ogah." Aku tak memperdulikannya, memilih tetap fokus membaca cerita di salah satu grup media sosial. Bodo amat mau Abang marah ke, kesel ke, gak peduli. Salah sendiri rese. Masa iya, sampe Abang nikah dia selalu begini? Ngelarang aku pacaran, ngelarang aku punya pacar. Padahal pacaran juga cuma pacar virtual! Masih saja digangguin. "Elah masih ngambek aja. Gini deh, Minggu besok Abang traktir nonton. Abang beliin es krim, abang beliin baju baru. Jangan ngambek lagi, ya? Sekarang cepetan, beliin abang nasi goreng." Rayunya sembari memamerkan senyuman. Mataku beralih menghadapnya. Menatap tajam bola mata kecoklatan milik lelaki yang bulan Juni besok berusia 27 tahun. "OGAH," teriakku tepat di sisi kanan telinganya, kemudian beranjak ke kamar, menutup pintu dengan keras. "Buset." Makian si Bewok masih kudengar. Dendi Hanggara, itu nama lengkapnya. Memiliki badan atletis, rambut gondrong, kumis tipis dan berjambang. Intinya Brewokan. Teman-temanku bilang sih tampan, keren. Tapi anehnya sampai saat ini tetap JOMBLO. Padahal yang suka banyak. Apalagi kalau hari valentine, banyak banget paket cokelat atau bunga yang terkirim buatnya. Mungkin selera cewek Bang Dendi terlalu tinggi. Bukannya cari pacar, dia malah sibuk kerja dan kerja. Yah, memang aku dan ibu semenjak kepergian Ayah, dia menjadi tulang punggung. Setengah jam berkutat di kamar, akhirnya aku keluar, memastikan kalau si Bewok sudah enyah dari rumah. Tujuanku hari ini, hendak mengobrak-abrik kamar Bang Dendi. Pembalasan dari tingkah konyolnya. Kalau dibiarkan lebih lama bisa gawat. Dia gak nikah-nikah. Aku apalagi? Ya dia enak, lama nikah gak bakal ada perjalanan tua. Lah aku? Bisa jadi perawan tua. Etapi, ada sih istilah cowok yang gak nikah-nikah. Perjaka bulukan. Membuka pintu kamar, kepala tengok kanan-kiri, memastikan Abang dan Bunda gak lihat kelakuanku. Baru sekarang aku masuk kamar Abang. Sebelumnya jarang banget. Ternyata kamar Bang Dendi rapi juga, bersih lagi. Berbeda dengan tampangnya yang urak-urakkan. Semua orang pasti gak nyangka kalau kamar Abang bersih, wangi, rapi begini. Kalau lihat penampilan abang, kayak anak gak keurus. Rambutnya gondrong tapi emang sih tapi. Diikat gitu kalau dia kerja. Ya lumayan kerenlah. Tapi, dia kan rese. Sedetik, aku ragu untuk memporak-porandakkan kamarnya. Gak tega, kamar udah rapi begini aku berantakan. Terus ngapain dong? Sebentar, sepertinya aku tidak perlu repot-repot bikin kamar ini berantakan. Lebih baik aku ambil saja beberapa barang miliknya supaya dia kelimpungan mencarinya. Ya, ide bagus. Kira-kira barang apa, ya? Oh aku ingat, Si Bewok rese itu paling gak mau buku agendanya disentuh apalagi dilihat orang lain. Bahkan buku agenda yang sudah copot sampulnya sering dibawa kemana-mana. Hem, mudah-mudahan tuh buku lagi gak dibawa, ada di dalam kamar ini. Aku gak sabar lihat ekspresi abang kalau tahu buku bulukannya hilang ditelan bumi. Mendadak jahat, gaes. Bodo amat, ah. Abang yang mulai sih. Aku menengok ke arah pintu. Memastikan tidak ada yang melihat. Setelah merasa aman, aku mulai menggeledah isi kamar bercat biru langit. Aku cari di deretan lemari buku, ternyata gak ada. Buku agenda abang mudah dikenali soalnya buku paling jelek, paling buluk. Selang beberapa menit, akhirnya buku itu kutemukan. Senyumku langsung mengembang. Abang, lihat saja pembalasan dari Ayu. Pantas saja bukunya gak dibawa, disimpan di bawah bantal. Kayaknya sih gak sengaja ketinggalan. Abang pasti lupa. Bukunya benar-benar terlihat usang. Abang kayak gak ada duit aja beli buku yang baru. Ini sih udah pantasnya dibuang. Tanpa pikir panjang, kubuka lembaran pertama. Setelah membaca tiga lembar, dapat kupastikan ini buku catatan harian. Aku terkikik geli, ternyata Bang Dendi suka curhat di buku. Haduh, hari gini gitu lho. Aku senyum sendiri saat membaca tulisan dia yang menceritakan awal mula orang tuanya mengangkatku sebagai anak. Membosankan. Kenapa si Bewok lebih banyak menceritakan tentang kejahilannya padaku sih? Ish! Jariku menpercepat lembaran berikutnya, hampir berada di lembar terakhir Dahiku mengernyit saat membaca kalimat terakhir dari tulisannya. "Love you, Ayu." Hah, love you? Maksudnya apa? Ayu siapa? Aku membaca ulang tulisannya dari atas. Dari lembaran sebelumnya. Ternyata benar Ayu yang dimaksud adalah aku. "Ya Tuhan," pekikku menutup mulut tak percaya. Jadi alasan Bang Dendi tidak memiliki pacar dan sering ngerecokin hubungan aku dengan cowok lain karena dia ... diam-diam mencintaiku? Astaghfirullah. Dadaku seketika berdebar. Aduh, kok bisa sih? Abang suka sama aku? Dia kan ... Aku kembali membaca tulisannya yang rapi. Mataku sampai tak berkedip membaca kata demi kata cinta yang ditulis abang untuk seorang gadis bernama Ayu Jelita, yaitu aku. Seketika kudengar pintu terbuka, lalu muncullah sosok laki-laki brewokan yang amat kukenali. Kami sama-sama terkejut. Aku berdiri, menyembunyikan buku bulukan itu ke belakang tubuh. "Ayu? Ngapain lu di kamar gue?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Papa, Tolong Bawa Mama Pulang ke Rumah!

read
4.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
151.1K
bc

Tentang Cinta Kita

read
210.6K
bc

My husband (Ex) bad boy (BAHASA INDONESIA)

read
289.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
161.4K
bc

TERNODA

read
192.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
224.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook