"Kau ...?" Mbak Zhafira mengetatkan geliginya yang tersusun rapi sambil menatap nyalang padaku. Menandakan dia sangat-sangat tidak menyukai kalimat sarkas yang baru saja meluncur dari bibirku. Aku tersenyum sinis dan balas menatapnya dengan pandangan remeh. Entahlah, aku memang tidak lagi respek dengannya yang menurutku tak ada wibawanya untuk dihormati layaknya seorang kakak pada umumnya. "Apa? Marah? Tidak perlu marah jika memang begitu kenyataannya," ucapku masih tak ingin terpengaruh dengan tatapannya yang mengintimidasi. Napas Mbak Zhafira terlihat naik turun. Mungkin heran jika adik yang dulu kerap dianggapnya culun dan kurang pergaulan, bisa seberani ini sekarang. "Cuma yang aku heran, ternyata ... Mbak Fira orangnya nggak punya malu, ya. Dulu ... aja ngotot pengen pernikahan di