Rafi
Kulangkahkah kakiku masuk ke rumah bergaya joglo ini. Rumah luas nan asri yang menoreh kenangan untukku, kenangan pahit lebih tepatnya.
“Assalamualaikum…” bisikku lirih.
Sudah seribu hari lebih eyang tiada, meninggalkan rumah megah ini. Artinya seribu hari lebih juga, Suci, istriku, menghilang dariku. Lebih tepatnya pergi meninggalkanku karena kebodohanku.
“Hufft…” lagi-lagi aku mendesah saat teringat Suci dan segala kelakukan jahatku yang membuatnya pergi.
“Eh Mas Rafi sudah datang. Monggo Mas, istirahat dulu nggih di kamar. Simbok siapkan kudapan sore hari.” Sapa simbok yang tergopoh menyambutku. Sekarang, simbok dan beberapa orang yang menempati rumah ini sekaligus merawatnya.
Aku mengangguk, tersenyum kecil dan melangkah menuju kamarku. Kamar luas penuh kenangan, terutama mengingatkan betapa bajingannya aku bersikap pada Suci.
Tidak banyak yang berubah pada kamar ini. Ranjang kayu jati yang kokoh dengan kelambu putihnya, yang menjadi peraduanku memadu kasih dengan Suci. Senyumku terbit saat membayangkan Suci berbaring dengan wajahnya yang teduh. Tangannya terulur seperti memintaku untuk segera menyatu dengannya.
Bagai terhipnotis, aku mendekati sisi ranjang kayu jati itu. Aku duduk di pinggir dan tanganku terulur hendak menyentuh pipi Suci, namun tiba-tiba saja wajah Suci menghilang. Senyumku memudar seiring hilangnya bayangan Suci.
Aku menoleh ke arah lemari jati, kulangkahkan kaki ke lemari itu, kubuka dan mataku seketika terpejam saat melihat pakaian Suci masih tersusun rapih. Kuambil satu, kuhidu, berharap aku masih bisa mendapatkan harum tubuh Suci di baju itu. Tapi itu tidak mungkin, sudah tiga tahun lebih dia pergi. Baju-baju ini sekarang berbau lemari.
Suara ketukan pintu menyadarkanku dari lamunan.
“Mas Rafi, silakan minum jahe hangat dan pisang rebus. Simbok sudah letakkan di ruang tamu, nggih.” Kata simbok ketika aku membuka pintu.
“Terima kasih Mbok,” kataku dan ikuti langkahnya, “Mbok, tunggu…” simbok berhenti, tubuhnya yang sudah renta berdiri menghadapku, membuatku jadi teringat eyang.
“Mbok, maaf, apakah Simbok tahu kabar tentang Suci?” tanyaku penuh harap. Harapanku seketika musnah saat simbok hanya menggeleng tipis kemudian melangkah pergi meninggalkanku tanpa diksi apapun.
Kuteguk jahe hangat, tapi entah kenapa rasanya tidaklah seenak buatan Suci. Ini enak, tapi buatan Suci sangat mantap.
“Kamu di mana, Uci? Aku rindu kamu. Aku rindu suaramu, aku rindu pelukanmu, aku rindu harum tubuhmu. Aku hanya... sangat merindukan semua yang ada pada dirimu. Kumohon kembalilah.” Gumamku lirih.
Kusandarkan punggung lelahku. Tidak hanya fisikku yang penat tapi hatiku juga. Angin sepoi-sepoi nan berhawa dingin, menyentuh wajahku, membuatku bergidik kedinginan. Kueratkan jaketku untuk mampu menghalau dingin, mataku terpejam sembari menikmati sentuhan sejuknya angin.
Entah siapa yang lebih dulu jatuh cinta, aku atau Suci, aku tidak tahu. Yang pasti, aku yang pertama kali menyakitinya, teramat sangat menyakitinya.
“Kamu loh Raf, yang ngejer-ngejer Suci. Waktu kamu kecil dulu, untuk habiskan liburan kamu pasti ke sini dan main sama Suci. Kemana-mana main bareng, sama Rayan juga. Kalian bertiga akrab tapi mungkin karena kamu yang lebih supel, kamu bisa lebih dekat dengan Suci dibanding Rayan yang cenderung kaku.”
“Aku lupa, eyang.” Jawabku saat eyang mulai bercerita.
“Eyang ingat kamu ngotot pingin nikahin Suci kalau sudah besar nanti,” kata eyang sambil tersenyum. Aku meringis, benarkah aku lakukan itu? Kapan?
“Kami tertawa dan abaikan itu, kami anggap itu hanyalah omongan anak kecil saja. Eh terus tuh ya, kamu bilang ke Suci gini: Suci, nanti kalau kita sudah besar, kita menikah ya. Kamu akan jadi pengantinku. Terus kelingking kalian bertaut. Haduuuh… itu mamamu dan eyang sampai bingung kok bisa sih masih kecil udah kepikiran jadi pengantin? Ono-ono wae kamu ini emang.”
“Benarkah, eyang?” tanyaku malu.
“Di bawah pohon gede yang di atas bukit itu loh, kamu ngomongnya. Ada bapaknya Suci dan Rayan yang lihat. Pantas saja pulang-pulang, wajahnya Rayan ditekuk. Ternyata karena kamu duluan udah mengikat Suci.” Eyang meneruskan ceritanya.
“Kenapa aku sama sekali tidak ingat itu?” tanyaku lagi.
“Hufft…, sejak kejadian itu, sejak kamu tenggelam dan hanyut di sungai yang membuatmu trauma, kamu hanya setahun sekali ke sini. Itu juga hanya menginap satu malam karena kamu gelisah terus. Bahkan sejak kamu kuliah di luar negeri, kamu malahan sama sekali tidak pernah ke sini lagi.”
“Huaaemm…” aku menguap terserang kantuk saat mengingat pembicaraanku dengan eyang di masa lalu saat aku belum mendapatkan tugas menjadi pengantin pengganti. Kuharap, tidurku di rumah eyang ini bisa lebih nyenyak karena ribuan malam tidurku tidak lelap.
“Eeum, di sini enak banget untuk tidur.” Desisku sembari menyeruput jahe yang langsung dingin. Sepoi-sepoi angin mampu redakan sedikit lelahku, membuatku merasa nyaman. Sakit kepala yang tadi sempat aku rasakan, perlahan menghilang.
*
“I love you.” Lirih terucap dari bibirku saat menyentuh lembut bibir Suci.
Sesekali aku elus lembut wajah cantiknya, wajah yang sungguh aku rindukan. Jemariku liuk menari, fasih menelusuri lekuk tubuhnya bak maestro yang memainkan simfoni menyentuh jiwa. Sapuan lembut bibirku pada setiap inchi tubuhnya bagai menciptakan semesta baru, hanya ada cintaku dan cintanya. Dia menyambutku tanpa kata, hanya mata penuh cinta yang membuatku tersesat di labirin kenikmatan.
Kening kami lembut bersentuhan, kecupan demi kecupan semakin penuh gairah, bagaikan kelopak bunga yang terbuka, melepaskan aroma manis tubuhnya yang seakan menyambutku penuh buncahan rindu, tak ingin tubuh kami terpisah. Demi Tuhan, aku sangat merinduinya.
Malam semakin larut dan kami semakin hanyut dalam sebuah permainan cinta penuh nikmat. Hanya ada dia dan aku. Malam ini, kami menjadi sebuah kesatuan yang tak terpisahkan.
Tapi…, kenapa dia menangis? Apakah itu sebuah tangis bahagia? Ya Tuhan, apakah lagi-lagi aku menyakiti hatinya? Tidak, jangan, jangan lagi aku menyakitinya.
Aku panik, kuabaikan polos tubuhku dan tubuhnya, aku yang terkulai di atas tubuhnya, segera menghiburnya. Hatiku terasa perih saat melihat kilau bulir air mata yang kembali meluruh di pipinya. Dengan cekatan, jemariku mengusap lembut air mata itu.
“Hei, ada apa Uci? Apakah aku menyakitimu?” tanyaku penuh kekhawatiran. Tapi istrik mungilku menggeleng, berikan sebuah jawaban tanpa suara. Kukecup keningnya, kelopak matanya, pipinya kemudian kulabuhkan pagutan lembut di bibirnya, sebuah kecupan penuh kasih, kecupan sepenuh hati yang kurasa baru kali ini aku labuhkan untuknya.
“Sungguh? Aku tidak menyakitimu lagi kan?” bisikku, memastikan. Kembali dia mengangguk tapi kali ini diiringi sebuah senyuman yang selalu dia sunggingkan walaupun di saat hatinya terluka.
“Kalau begitu, apa yang membuatmu meneteskan air mata? Kesedihan apa yang mengganggumu? Apakah cinta kita tidak memberimu kebahagiaan? Apakah penyatuan kita tadi tidak mampu untuk menyembuhkan luka di hatimu?” bisikku lagi, penuh tuntutan tapi dengan nada penuh kelembutan. Kubenamkan tubuhnya dalam hangatnya pelukku. Kutarik selimut hingga menutupi tubuh kami. Bahkan aku tidak rela seandainya cicak di dinding ikut menikmati indahnya tubuh Suci.
Kali ini, dia menangkup wajahku. Dikecupnya bibirku bahkan mengajak lidahku berdansa. Hingga akhirnya aku renggangkan pelukan kami saat dia mulai kehabisan nafas.
Mata indah itu… kembali aku menatap lembut matanya, kusatukan kening kami. Hatiku teriris melihat luka yang dalam di matanya yang seindah safir. Seketika aku tahu cinta kami telah membangkitkan sumber rasa sakit yang tersembunyi padanya, yang dia pendam seorang diri. Luka dan lara karena pengabdian dan cintanya untukku.
Tapi tahukah dia, bahwa tidak hanya dia yang terluka, tapi aku juga. Dosa dan salahku begitu dalam menorehkan luka, hingga cinta dan janji yang aku bisikkan saat memeluknya pun, terasa tidak bermakna. Setiap kata cintaku, bagai sebuah tetesan hujan yang jatuh pada keringnya hati istriku. Menguap begitu saja, tanpa sisa.
Aku hanya bisa berdoa, kali ini aku mampu dapatkan kembali cintanya. Hingga aku bisa mengembalikan senyum dan damai hatinya, menyembuhkan luka menganga dan mengusir emosi yang diombang-ambing badai. Aku harap sesalku, janjiku, cintaku akan menjadi mercusuar untuk menerangi malam tanpa bulan, yang mampu menerangi gelapnya cinta kami hingga akhirnya kami bisa bersauh di pelabuhan kebahagiaan.
"Uci, maafkan aku, ya?" bisikku lirih. Yah, maaf, hanya maaf yang aku butuhkan darinya agar dia tidak lagi pergi dariku.