BAB 5 – Pelat Nomor

624 Kata
Air mata itu tak bisa tertahan. Ceria menangis, menungkup wajahnya dengan bantal. Pikirannya langsung melayang jauh. Seperti apa kedekatan mereka selama ini? Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa, Bagja selalu mengatasnamakan pekerjaan dan mencari nafkah untuk keluarga. Hatinya sakit, benar-benar merasa teriris. Ceklek. Pintu kamar terbuka. Bagja menghampirinya yang masih sesenggukan dengan bertumpu pada bantal. Lelaki itu memegang pundaknya dan bertanya seolah tidak terjadi apa-apa. “Ri, kamu kenapa?” tanyanya datar. Tidak ada jawaban, hanya isakan. “Ri, ngomong dong,” bujuk Bagja lagi. “Aku mau kerja, Mas,” ucap Ceria di tengah isaknya tanpa melepas bantal yang jadi tumpuannya. “Ya udah, aku izinin, nanti kamu udah boleh nyari-nyari kerjaan. Udah, jangan nangis lagi. Gitu aja dinangisin,” ucapnya datar. Dasar lelaki memang terkadang tidak peka. “Ri.” Bagja masih berada di sisinya. Ceria masih menangis dan tidak menjawab. “Ri, aku berangkat lagi ya, tadi mampir ke rumah cuma ambil berkas yang ketinggalan, tadi pagi lupa. Nanti aku susul ke rumah Mama,” ucapnya. Ceria lagi-lagi tak menjawab. Terdengar Bagja menarik napas kasar kemudian melangkah menjauh. Perlahan Ceria mengangkat wajahnya. Sekilas dia melihat pantulan dirinya pada cermin. Memang terlihat berantakan. Dirinya makin merasa insecure. Suaminya berjam-jam ditemani gadis muda, cantik, dan modis di kantor, pantas saja ketika pulang sudah tidak lagi menganggapnya ada. Itulah pemikiran yang terlintas dalam benak Ceria. Di ruang tengah, tak lagi terdengar obrolan. Perlahan Ceria membuka pintu kamar. Rupanya mereka memang sudah keluar, terlihat siluet bayangan mereka dari jendela kaca di samping pintu yang tertutup gorden tipis. Ceria sebetulnya enggan melihat kebersamaan mereka. Namun, instingnya tetap mengajaknya perlahan menghampiri tirai itu. Terlihat suaminya sudah menyalakan sepeda motornya. Sepeda motor yang dicicilnya selama ini, bahkan ada sebagian uang hasil kerja Ceria pada awal-awal pernikahan. Sepeda motor itu dinaiki wanita lain. Dan yang lebih menyakitkan melihat jaket yang dikenakan Sisy, jaket yang tadi pagi dipakai suaminya berangkat kerja, jaket yang dia cuci dengan hati-hati dan dia setrika dengan sisa tenaga. Mengurusi semua kebutuhan anak dan suami sampai mengabaikan diri sendiri, namun ternyata inilah yang dia dapatkan. Selama dia berumah tangga dengan Bagja, dia menjadi wanita yang nrimo. Ceria tidak pernah meminta lebih. Perawatan diri ala kadarnya, sebisanya sendiri di sisa waktu. Dia tidak hendak menjadi istri yang memusingkan suami dengan segala permintaan dan rengekan yang akan memberatkannya. Ceria sudah terlatih hidup mandiri sejak belia. Dia melepaskan semuanya ketika memutuskan hendak berumah tangga dengan Bagja, dan memulai semuanya dari nol bersama lelaki yang dulu selalu bilang mencintainya. Ceria bergegas mandi, berganti baju dan menyiapkan pakaian ganti untuk Iren dan Bagja. Bagaimanapun tadi suaminya bilang jika nanti sepulang kerja akan menyusulnya. Diraihnya ponselnya untuk memesan ojek online yang akan mengantarnya kembali ke rumah mertuanya. *** Baru saja dia keluar gerbang perumahannya dan melewati pasar malam, tak sengaja sudut matanya menangkap sesuatu yang familier. Sepeda motor dengan pelat nomor B 1xxx3 FYZ terparkir di sebuah rumah makan kecil di ruko-ruko. Dia tidak salah lagi, itu sepeda motor yang dikendarai Bagja dan Sisy beberapa puluh menit yang lalu. Rupanya mereka tengah mencari makan dulu. Air matanya kembali menetes, sakit itu menusuk-nusuk hatinya kembali. Selama ini memang sering sekali Bagja tidak makan malam di rumah jika sedang ketemu klien. Namun, Ceria tak pernah membayangkan jika suaminya itu hanya makan berdua dengan gadis muda, meskipun dengan dalih hanyalah partner kerja. Entah semesra apa mereka di dalam. Apakah gadis itu menyendokkan lauk ke piring suaminya, menyodorkan air minum untuknya, atau mereka duduk berdempetan tanpa cela seperti tadi? Ceria sekuat hati menepis bayangan-bayangan yang semakin membuat hatinya sesak. Lagi-lagi jika dia marah, maka jawabannya pastinya terkait pekerjaan yang akhirnya membuat dirinya akan kembali bungkam. Sepertinya sekarang pekerjaan jauh lebih penting daripada dirinya, itu hal yang semakin lama semakin kuat terlintas pada pikiran Ceria.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN