"Meichan?"
Panggilan mesra itu terdengar dari arah belakangnya, tapi ia tidak berbalik. Ia masih tidak berbalik meski kedua bahunya dipeluk lembut dari belakang.
"Mei... Mas berangkat dulu ya... Kamu mau dibeliin apa nanti?"
Kepala Mei masih menunduk. Ia hanya menggeleng pelan.
"Tidak usah mas. Aku ga perlu apa-apa kok."
Jawaban itu membuat tangan yang ada di bahunya mer*mas lembut.
"Mas ga tanya apa yang kamu perlu, sayang... Mas tanya, apa yang kamu pengenin sekarang... Nanti akan mas usahain beliin di sana..."
Tangan Mei yang sedang memegang gunting tanaman mengerat. Wanita itu memotong salah satu daun yang berwarna cokelat. Daun itu terlihat kering dan layu.
"Engga usah repot mas. Beneran kok, aku ga butuh apa-apa. Aku juga ga pengen apa-apa."
Pria di belakangnya diam dan perlahan, kedua tangannya yang besar memeluknya erat. Sangat erat. Mei juga bisa bisa merasakan ubun-ubunnya diberi ciuman dalam oleh lelaki itu.
"Maafkan mas, Mei..."
Kedua mata Mei hanya menatap kosong ke depan. Pandangannya masih kosong saat Aslan pada akhirnya pergi dan meninggalkannya sendirian.
Di dalam rumah, kembali Mei duduk di sofa dan memandang sekelilingnya. Apa yang ia rasakan sekarang ini, sama dengan yang ia pernah pikirkan sebulan yang lalu.
Impiannya akan rumah ini bukan lagi retak, melainkan telah hancur lebur. Luluh lantak.
Dulu, ia rela meninggalkan semuanya untuk hal yang dipercayainya. Ia mau menikah dengan seseorang yang baru dikenalnya 3 bulan hanya karena yang mengenalkannya seseorang yang ia hormati dulu. Aslan adalah alumni senior dari karyawan wanita yang menjadi role model-nya dulu.
Seseorang yang ia kagumi dan percayai, ternyata orang yang sama yang juga membuatnya hancur.
Tidak pernah dalam mimpinya yang paling buruk pun, ia menyangka kalau suaminya saat ini ternyata pernah menjalin hubungan dengan wanita itu dulu. Ia baru mengetahuinya saat mereka sudah menikah dua minggu dan itu pun karena Mei yang menanyakannya.
Air mata Mei tidak lagi menetes di pipinya. Air matanya telah habis menangisi kepergian calon buah hatinya yang tidak sempat hadir di dunia. Ia juga tidak bisa lagi meratapi nasibnya sebagai seorang perempuan yang tidak akan pernah sempurna sejak keguguran waktu itu.
Kalau memang demikian, untuk apa ia masih bertahan di samping pria itu?
Pria itu memang telah menjadi suaminya, tapi apakah hatinya pernah menjadi miliknya?
Menunduk memandang cincin di jari manisnya, wanita itu hanya duduk diam selama beberapa jam di sana.
Beberapa hari setelah itu, di terminal kedatangan, tampak Aslan terburu-buru mengambil bagasinya. Saking terburunya, pria itu sampai menjatuhkan ponsel yang sedang dipegangnya.
"Hei! Kau ini kenapa, Ash? Sejak tadi pagi, kau ini gelisah terus."
Mengambil uluran ponsel dari rekannya, pria itu menggeleng cepat.
"Aku hanya ingin segera pulang. Aku duluan, Gun!"
Tidak menunggu lagi, Aslan langsung menghambur dari sana dan menuju taksi.
Sepanjang perjalanan, pria itu melakukan panggilan pada seseorang dan seperti tadi pagi, tidak ada jawaban. Hanya suara mesin yang mengatakan nomor tersebut berada di luar jaringan dan hal omong kosong lainnya.
Mata pria itu mengarah ke layar dan memandangi chat terakhir pada isterinya. Padahal tadi malam, mereka masih bercakap-cakap dan pesannya pun masih diterima. Tapi sejak pagi tadi, chat-nya pada Mei belum ada yang dibalas, bahkan masih centang satu, menandakan belum satu pun yang terkirim.
"Mei... Jawab sayang..."
Pikiran Aslan dipenuhi dengan sesuatu yang buruk. Ia sangat takut ada sesuatu yang terjadi pada isterinya. Entah wanita itu jatuh, sakit atau paling buruk, rumahnya dirampok.
Hampir satu jam perjalanan, barulah Aslan masuk ke komplek perumahannya dan dapat melihat bangunan kecil itu dari kejauhan. Tidak sabar, pria itu membayar taksinya dan langsung masuk ke halaman rumah.
Jantungnya masih berdebar, tapi saat melihat seluruh tanaman tumbuh subur dan terawat baik, degupannya perlahan memelan. Ia tahu, semua tanaman Mei perlu disiram taratur. Sehari saja isterinya lupa menyiram, maka daun-daun hijau itu akan mulai menguning. Mereka butuh seseorang yang telaten untuk merawatnya.
Lelaki itu masuk ke rumah, tapi tidak seperti biasanya, ia bisa merasakan rumah itu kosong.
"Mei?"
Kembali jantungnya berdegup lebih cepat dan mengikuti instingnya, ia memeriksa semua ruangan seksama.
Rumah itu bersih dan rapih. Kamar tidurnya pun rapih dan semua barang terletak pada tempatnya. Tidak ada yang berubah. Bahkan saat memeriksa seluruh laci, semua perhiasan isterinya dan barang berharganya masih ada di sana. Tidak ada yang hilang. Tidak ada yang berpindah. Tapi Aslan tetap merasa ada yang aneh.
Menelan ludah, ia kembali menelepon isterinya dan sama seperti tadi, nadanya tetap sibuk.
Kedua matanya menelusuri kamar tidurnya, dan akhirnya pandangannya jatuh ke satu amplop kecil di meja.
Alis pria itu berkerut saat ia mengambilnya. "Apa ini?"
Ia membuka amplop itu dan matanya bergerak cepat membaca isinya. Tampang pria itu dengan segera berubah, dan ia langsung membuka pintu lemari dan berjongkok. Tangan-tangannya panik mengeluarkan beberapa kotak yang tersimpan di bawah dan membuka salah satunya.
"Tidak..."
Suara berat pria itu bergetar, dan ia pun dengan kasar membongkar isi kotak itu ke lantai. Matanya jelalatan mencari sesuatu yang diinginkannya dan akhirnya jatuh terduduk.
"Tidak..."
Tatapan nanar pria itu bertahan beberapa saat, sampai ia kembali berdiri dan memeriksa lacinya. Tampak ia membuka sebuah dompet khusus dan melempar beberapa buku bank ke atas tempat tidur. Saat melihatnya, Aslan tahu ia telah kehilangan salah satunya.
Satu buku yang ia tahu pasti, milik isterinya sendiri.
Tubuh pria itu terasa lemas dan ia jatuh ke lantai. Kakinya gemetar. Aslan bisa merasakan tubuhnya gemetar.
Dua mata berwarna cokelat itu menatap ruangan yang berantakan di depannya nanar.
Hanyalah suara pekikan kecil yang terdengar saat ia akhirnya sanggup bersuara, "Mei...!"