3. Lihat Bidadari

1372 Words
Ricky Pov. Senang banget gue, akhirnya nyokap balik juga ke habitatnya. Eh... Ke kampung halaman maksud gue, jahat banget ya gue jadi anak. Ngatain emak gue sendiri kek binatang. Tapi satu yang bikin gue sedih pas emak gue balik ke Medan. Enggak ada lagi yang memasakkan gue enak-enak. Bokap itu yang kenyang sama masakan emak gue tiap hari. Tapi gue juga khawatir kalo emak balik kampung, takut dihamili sama bokap. Secara dulu pas masih serumah tiap malam gue itu sering banget dengar emak gue adu mulut sama bokap. Yang jelas adu mulutnya nya bukan tengkar, tapi itu loh yang suara orang keenakan main kuda-kudaan kek di blue film yang suka gue tonton. Gue kan jadi kasihan ama emak tercinta gue, dikerjain mulu sama bokap. Nyokap gue itu dulu pernah sakit kista yang mengharuskan rahimnya diangkat. Terus pas jaman gue masih piyik, emak ngotot banget ingin punya bayi cewek. Tapi enggak kesampaian gara-gara sakit kista itu. Mungkin sampai sekarang masih terobsesi ingin orok cewek kali ya. Makanya tiap malam main kuda-kudaan. Makin leluasa saja mereka jauh dari gue. Tapi bokap oon apa bagaimana ya? Mau sesering apa pun dibobol gawangnya nyokap juga enggak bakalan hamil. Rahim nyokap kan sudah diangkat. Eh... Tapi gue yang lebih oon deh kayaknya dari bokap. Sudah tahu rahim emak gue diangkat tapi masih takut nyokap hamil lagi. Eh... Tapi gue senang, tandanya kan bonyok gue masih romantis sampai tua. Sekarang gue tahu dari mana gen m***m gue ada, ya jelas dari merekalah. Bokap m***m banget sama nyokap, makanya gue juga ketularan m***m. Tapi kagak sama nyokap sendiri ya, gue sadar kalau gue lahir dari bagian inti nyokap gue yang tersembunyi banget. Ya masa gue mau embat nyokap sendiri. Lagi pula di agama juga kan haram doyan nyokap sendiri. Set dah... Bawa-bawa agama segala gue. Kayak orang benar saja, hidup saja masih kagak jelas. Di rumah terus jenuh, libur seminggu kagak ngapa-ngapain kecuali menonton film. BT gue, tapi mau keluar juga malas kagak punya gandengan. Nasib gue begini amat ya, cewek kagak punya. Apalah arti tahta dan harta kalau tanpa wanita. "Argh..." gue lempar remote TV ke sembarang arah. "Den Ricky kenapa?" Dahlia datang dari belakang. Glek! Susah payah gue menelan ludah gue sendiri lihat penampilan Dahlia. Dia pakai kaos ketat sama celana pendek sampai tengah pahanya. Kuatkan iman hamba ya Tuhan. Hamba masih ingin perjaka. "Den... Kok malah melamun?" Gue makin panas dingin saja pas Dahlia membungkukkan tubuhnya di depan wajah gue. Belahan dadanya makin ketara, bahkan dua balon itu bergoyang sedikit saat Dahlia bergerak. Tuhan, jangan sampai hamba memiliki gelar baru sebagai majikan mencabuli pembantu. "Em... Kamu ngapain di sini?" berhasil, gue bisa mengalihkan pandangan mata gue biar tidak menatap toketnya Dahlia mulu. "Saya takut Den Ricky kenapa-napa, makanya saya lari ke sini." jawab Dahlia polos, dia sudah menegakkan tubuhnya lagi dan tidak bungkuk di depan wajah gue. "Saya tidak kenapa-napa, sudah ke belakang lagi sana." gue usir saja dia, dari pada iman gue tergoda lebih jauh. "Iya, Den." beneran si Dahlia langsung balik badan. Buset bongkahan pantatnya bikin gue ngiler. Sadar Ricky, dia itu masih bocah. Masih delapan belas tahun dan lo sudah om-om. Masa depan dia masih jauh, enggak boleh lo rusak. "Em... Dahlia." bangkai, kenapa bibir gue malah menyebut nama dia. Jadi itu bocah ingusan balik badan lagi kan. "Iya Den, kenapa?" si Dahlia jalan mendekati gue lagi. "Duduk sini." bangsuy, kenapa lagi ini bibir malah menyuruh dia duduk. "Bukan di bawah, tapi di samping saya." buset, enggak mengerti lagi gue sama bibir gue sendiri. "Tapi Den, tidak sopan." "Lebih tidak sopan lagi kalau kamu di bawah. Kelihatan jelas." Dia bingung sama kata-kata gue. Tapi setelah gue paksa akhirnya dia duduk di dekat gue juga. Gue merasa jantung gue makin deg-degan. Aish... Hobby gue ini lihatin cewek montok, seksi dan bohay begini. Bikin dunia khayalan gue makin berwarna. "Den Ricky ada apa ya minta saya duduk di sini?" Gocap! Pertanyaan dia ada benarnya juga, ngapain gue minta duduk di dekat gue. "Em... Itu asli, Dah?" Mulut gue! Beneran kagak bisa dijaga. Harus dirantai terus digembok juga lama-lama. "Apa Den?" gue lihat Dahlia bingung akut, dia beneran kagak mengerti apa yang gue maksud. "Maksud saya itu, kamu asli lulusan SMA?" gue mencoba mengalihkan pembicaraan saja. "Iya aslilah Den, masa bohongan." "Terus kenapa tidak lanjut kuliah dan kenapa kalau lulusan SMA, kamu mau jadi pembokat di rumah gue?" "Den Ricky kan tahu kalau Bapak sama Ambu orang tidak punya, dan mana mungkin bisa menguliahkan saya. Saya mau jadi pembantu juga di sini saja Den, karena mengingat jasa orang tua Den Ricky yang sangat baik sama Bapak sama Ambu." Gue angguk-anggukan kepala gue kek orang mendengarkan musik disko. Benar juga apa kata dia, orang tua dia dulu kerja sama bonyok gue sudah lama banget. "Kamu mau lanjut kuliah?" "Ya mau Den, tapi tidak punya biaya." Sedih amat gue lihat ini bocah, kuliah saja susah. "Saya akan kuliahkan kamu, kamu mau?" Gue lihat dia senang banget mendengar gue mau menguliahkannya. "Beneran, Den?" "Ya benar, tapi kamu harus tetap kerja di sini." "Mau Den, terima kasih banyak Den Ricky." Buset! Auto kaget dapat terjangan dadakan dari Dahlia. Bayangkan, dia tiba-tiba memeluk gue begitu saja. Dia kesenengan banget. Tapi apa dia kagak ingat kalo gue itu laki dan dia itu perempuan. Dua gundukan di dadanya bikin tubuh gue makin panas dingin kagak karuan. "Ya sudah, kamu bisa balik lagi ke belakang." gue mencoba melepaskan pelukan dia di tubuh gue. Gue sudah tidak kuat menahan goyangan dadanya di d**a bidang gue. Sungguh menggoda iman. "Hehehe... Maaf Den, kalau begitu saya ke belakang dulu." Dahlia langsung ngacir begitu saja tanpa tahu perasaan gue yang bagai orang dicampakkan. Ah elah... Paka acara turn on lagi ini yang di bawah. Cuma dapat goyangan d**a bentar doang juga langsung konek. Tidak bisa dibiarkan ini mah, harus dituntaskan segera kalau tidak mau makin tersiksa. Oh iya... Yang gue bilang mau menguliahkan dia itu sebenarnya bokap gue yang mau membiayai. Gue bilang begitu ya pencitraan doang di depan Dahlia. Sudah sampai kamar saja gue, langsung saja gue kunci kamar. Tanpa basa-basi lagi, gue langsung baringan di atas kasur. Menuntaskan sesuatu yang cuma dilakukan orang dewasa. Biar lebih syahdu, gue play koleksi film yang ada di HP gue. Gue sudah biasa sih lihat barangnya cewek, tapi dalam film. Kalau asli mah boro-boro, penutup dalamnya saja gue belum pernah lihat kecuali punya nyokap. Jadi sudah pasti otomatis kalau gue masih perjaka ting-ting. Cuma kadang tangan gue saja ini yang menodai pakai sentuhan. Langsung saja gue mulai, karena gue tidak mau lama-lama begadang. Besok gue sudah balik ke rutinitas jadi dokter mata. Untung kagak jadi dokter kandungan gue, bisa kenyang lihatin punya emak-emak muda yang lahiran wkwkwk... Ricky Pov End. *** Author Pov. Benar saja, pagi ini Ricky sudah siap dengan setelan kemeja dan celana bahannya. Dia bersiap-siap ke rumah sakit Xim Medika. Akhirnya dia akan kembali di rumah sakit besar juga. Ricky menuruni tangga dan melihat di atas meja makan sudah tersedia sarapan untuknya. Bisa dipastikan Dahlia yang memasaknya, siapa lagi. Hanya ada dirinya, Dahlia dan Maman si tukang kebun. Tidak mungkin kalau Maman yang memasak, nanti bisa dicampur rumput hasil potongannya. "Tidak enak juga ngapa-ngapain sendiri, coba kalo gue punya bini. Ada yang menemani makan, menonton TV, mandi, terutama menemani bobok muehehe..." pikiran m***m Ricky balik lagi, padahal masih pagi. Ricky tidak berminat memakan sarapan hasil masakan Dahlia. Hampa rasanya melakukan sesuatu sendiri. Jadi dia putuskan langsung ke rumah sakit saja. Siapa tahu ada Marsel atau Arya yang bisa diajaknya sarapan bersama. Lumayan perjalanan dari rumah Ricky ke rumah sakit, sekitar 20-25 menit. Itu kalau lancar, kalau macet bisa sampai berjam-jam. Biasanya dia terjebak macet saat sore hari. Akhirnya Ricky sampai di rumah sakit, dia langsung memarkirkan mobilnya ke basement. Karena semua dokter wajib parkir di basement. Meski ada juga pihak keluarga pasien yang parkir di sana. Ricky berjalan lumayan cepat, bahkan bisa dibilang sedikit berlari. Dia melirik jam tangannya sebentar. Dia harus segera memberi sidik jarinya ke mesin absen kalau tidak dia bisa dianggap telat. Masa hari pertama bekerja langsung dapat predikat telat. Bruk! "Aw... Sakit." Ricky kaget saat mendengar suara perempuan yang meringis kesakitan. Dia tidak kenal siapa perempuan itu. "Em maaf, maaf. Saya tidak sengaja, ini salah saya karena jalan terlalu terburu-buru." Ricky mengakui kesalahannya. "Oh iya tidak apa-apa, ini juga tidak terlalu sakit kok." wanita itu berdiri dan membersihkan celana jeansnya yang mungkin kotor. Ricky terpana melihat senyuman wanita yang tidak sengaja dia tabrak. Sangat manis dan cantik. Ricky menyukai wanita yang tak sengaja dia tabrak ini. Meski penampilannya tomboi tapi dia sangat cantik. Untuk pertama kalinya dia menyukai wanita yang tidak montok dan seksi.  "Gue lihat bidadari." Gumam Ricky dalam hati. *** Next... 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD