PART. 1 MITHA

1148 Words
"Mommy!" Mitha masuk ke dalam dapur rumah Yuda. Yuki yang baru selesai membuat kue menolehkan kepalanya, lalu tersenyum manis sambil mencubit pipi gadis yang usianya hampir 19 tahun di sampingnya. "Sudah pulang sekolah?" "Sudah Mom, Mommy bikin apa?" Mitha melongok ke dalam open dari kaca di pintu open. "Bingka kentang," sahut Yuki. "Mitha boleh minta nggak Mom?" "Boleh, nanti bawa pulang untuk orang rumah juga ya" "Teng kiu Mom" "Sama-sama sayang" Yuki kembali mencubit pipi chubby milik Mitha. Yuki sangat menyayangi Mitha, baginya Mitha sudah seperti anaknya sendiri. Karena satu-satunya putrinya sudah menikah dan diboyong suaminya tinggal jauh dari dirinya. Yang tertinggal di rumah saat ini hanya Yudhis saja, karena Yusuf dan Yunus kuliah di luar negeri seperti Yudhis dulu. "Bang Yudhis belum pulang kerja ya, Mom?" "Belum sayang, Mitha mau minum apa?" "Milk coklat boleh teu, Mom?" "Boleh sayang," Yuki langsung membuat s**u coklat seperti keinginan Mitha. "Diminum selagi hangat ya" Yuki menyerahkan gelas berisi s**u coklat ke tangan Mitha. "Teng kiu, Mommy" "Kembali kasih, sayang" Mitha menghirup s**u coklat hangatnya. Suara mobil yang memasuki halaman membuat Mitha meletakan gelas s**u coklatnya di atas meja. "Bang Yudhis!" Seru Mitha, lalu ia berlari ke luar dari dapur, meninggalkan Yuki yang kembali asik dengan kue buatannya. "Assalamuallaikum" "Walaikum salam" "Mitha, habis minum s**u coklat ya?" Tanya Yudhis saat melihat wajah Mitha. "Kok tahu!?" Mitha mendongakan wajahnya ke arah Yudhis yang jauh lebih tinggi darinya. Yudhis mengangkat kedua tangannya. Dipegangnya wajah Mitha dengan kedua telapak tangannya. Kedua jempolnya bergerak, menghapus bekas coklat di sudut bibir Mitha. Tatapan mata mereka bertemu, Mitha mengerjapkan matanya, tatapan Yudhis turun dari mata ke bibir Mitha. "Kalau minum coklat, jangan lupa bersihkan dulu bekasnya baru ketemu orang. Jangan jorok begini dong" ujar Yudhis sambil menarik hidung Mitha. "Ehmm, sakit Bang" rungut Mitha manja. "Mommy mana?" "Bikin kue di dapur" "Ayo ke dapur" Yudhis memeluk bahu Mitha, baginya Mitha sudah seperti adiknya sendiri. Mereka masuk ke dapur menemui Yuki. "Assalamuallaikum Mom" "Walaikum salam" Yudhis mencium punggung tangan Mommynya, sementara Mitha kembali duduk di kursi dapur, menikmati s**u hangatnya. "Mandi dulu sana" Yuki menepuk lembut bahu putranya. "Siap Mom" "Abang mandi dulu ya" Yudhis pamit pada Mitha. "Iyes, Abang" sahut Mitha. "Eh, Bang Yudhis sebentar!" Panggil Yuki. "Ada apa, Mom" Yudhis yang ingin meninggalkan dapur kembali mendekati Yuki. "Bagaimana dengan yang kita bicarakan semalam?" "Aku sudah bicarakan dengan Alea, dia minta waktu untuk berpikir dulu, Mom" "Apa lagi yang harus dipikirkan, Bang. Kalian sudah hampir tiga tahun dekat?" "Aku juga tidak tahu, Mom" "Ya sudah, mandilah sana" "Baik, Mom" Yudhis ke luar dari dapur, meninggalkan Yuki dan Mitha. "Bang Yudhis mau merid ya Mom?" "Maunya Mommy begitu" "Sama Mbak Alea?" "Hmmn" Yuki hanya menggumam dan tersenyum mendengar pertanyaan Mitha. "Kalau Bang Yudhis merid, berarti Mitha harus cari Abang nyu dong" "Kenapa?" "Bang Yudhis pasti tidak tinggal in hir agen, iyess teu Mom?" "Iya" "Mitha harus segera cari Abang nyu, sebelum Abang Yudhis go. Mitha tidak mau kesepian Mom. Abang Satya, Abang Yusuf, dan Abang Yunus, kuliah di luar negeri, Abang Yudhis sebentar lagi menikah. Mitha jadi tidak punya Abang-Abang lagi Mom." Ujar Mitha dengan mata berkaca-kaca. Satya, kembaran Mitha, memang seusia Mitha, tapi saat SD hanya di laluinya empat tahun saja, Satya lompat kelas karena kecerdasannya. Yuki tersenyum mendengar ucapan Mitha. "Mitha masih punya mami dan papi, juga mommy dan daddy" "Beda dong, mommy. Pokoknya Mitha akan cari Abang nyu. Teng kiu s**u coklatnya ya Mi, ceknya nanti boleh nggak diantar ke rumah saja. Mitha harus pulang sekarang, cup. Ay lap yu, Mommy" Mitha mengecup pipi kanan Yuki. "I love you too, honey" "Assalamuallaikum, Mommy" Mitha mencium punggung tangan Yuki. "Walaikum salam sayang" Mitha ke luar dari pintu dapur, ia memanjat tangga yang bersandar di dinding pagar yang memisahkan rumah Yuki dengan rumah orang tuanya. Tekadnya sudah bulat, untuk mencari abang baru yang bisa untuk tempatnya berbagi cerita dan bermanja seperti Yudhis selama ini. **** Yudhis turun dari lantai atas, ia masuk ke dapur. Hanya ada mommynya di sana, karena dua orang asisten rumah tangga mereka sedang pulang kampung karena ada keluarga mereka yang meninggal. Asisten rumah tangga mereka memang masih ada hubungan keluarga. Yuki mengijinkan mereka pulang ke kampung mereka. "Mithanya mana, Mom?" "Sudah pergi, katanya ingin mencari Abang baru" jawab Yuki seraya mengukir senyum di bibirnya. "Mencari abang baru, maksudnya?" Yudhis mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti akan ucapan mommynya. "Mitha tanya, apa kamu akan menikah, Mommy jawab iya. Terus dia bilang kalau dia perlu abang baru untuk menggantikanmu" "Mau cari abang baru di mana? Haahh anak itu ada-ada saja, apa dia pikir semua pria itu sama baiknya? Apa dia pikir akan semudah itu menemukan seorang pria yang bisa tulus menyayanginya?" "Dia itu pikirannya masih polos, Bang." "Aku mau ke rumah Mitha, Mom. Anak itu harus diberi pengertian" "Mommy titip kue ya, buat Mitha dan mami papinya" "Baik, Mom" *** Yudhis sudah di rumah Mitha, diserahkannya kue yang ia bawa kepada Hanum. "Mithanya mana Mi?" "Ada di kamarnya, naik saja" Hanum menunjuk ke lantai atas, Yudhis memang sudah biasa menemui Mitha di kamarnya. Pram dan Hanum sudah menganggapnya sebagai putra mereka sendiri. "Terimakasih, Mi. Aku naik ya" "Heum" Hanum tersenyum dan menganggukan kepalanya. Yudhis menaiki tangga untuk menuju kamar Mitha. Sampai di depan pintu kamar Mitha, diketuknya daun pintu dengan perlahan. "Mitha" panggilnya pelan. Tidak berapa lama pintu kamar terbuka. "Abang, aya naon?" Mitha ke luar dari kamarnya. Ditutupnya pintu kamar. "Ada yang ingin Abang bicarakan dengan Mitha" "Hmmm, apa Bang?" "Boleh kita bicara sambil duduk?" "Boleh dong, duduk di teras yuk Bang" "Hmmm" Yudhis menganggukan kepalanya, lalu mengikuti langkah Mitha menuju teras yang ada di lantai atas rumah Pram dan Hanum. Mereka duduk di sofa yang ada di sana. "Mau bicara apa, Bang?" "Kata Mommy, Mitha ingin mencari abang baru, benar?" "Ooh itu, iyess. Abang bisa kasih Mitha rekomendasi tidak. Cowok di komplek ini yang bisa Mitha jadikan abang nyu Mitha?" "Kenapa harus mencari abang baru. Mitha sudah punya abang Satya, abang Yusuf, abang Yunus, dan bang Yudhis juga?" "Abang Satya, abang Yusuf dan Yunus kan tidak ada di sini, sedang Abang Yudhis kata mommy sebentar lagi merid, iyess?" "Meskipun Abang menikah, Abang tetap Abangnya Mitha. Tidak akan ada yang berubah" "Abang bisa bilang begitu, bagaimana dengan Mbak Alea, pasti dia tidak akan suka kalau cinta dan perhatian Abang terbagi. Wanita mana yang mau berbagi pria yang dicintainya, Abang" "Mitha kan adik Abang, Alea harus mau menerima Mitha sebagai adik juga" "Mitha memang masih litel Abang, tapi Mitha sudah mengertilah tentang perasaan women. Teu naon-naon, Abang jas fokus ke rumah tangga Abang, Mitha pasti akan bisa mendapatkan abang nyu yang baiknya sama dengan Abang, iyess may laply, Abang!" Mitha mengacungkan kedua jari jempol di kedua tangannya. Yudhis menatap wajah kekanak-kanakan Mitha. Wajah itu mungil, imut, putih bersih tanpa noda ataupun jerawat. Dihela napasnya, untuk mengusir kecemasan di dalam hatinya. Yudhis cemas, kepolosan Mitha akan dimanfaatkan pria-pria di luar sana. Ia tidak rela jika Mitha tersakiti ataupun disakiti. Baginya Mitha adalah adik perempuan tersayangnya, setelah Yuri pergi mengikuti suaminya. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD